‘Ad Astra’, Mencari Sang Ayah Hingga Ke Ujung Semesta

“He was the first man to the outer solar system. He was a pioneer. But there was much more to him than that.” – Roy McBride.

Suatu waktu tak jauh di masa depan, saat di mana manusia sudah sedikit maju teknologinya, bahkan perjalanan ke bulan pun kini sudah terbuka untuk umum dan ada jadwal penerbangan teratur untuk publik yang bisa digunakan secara bebas. Tampaklah astronot Roy McBride (Brad Pitt) yang ditugaskan SpaceCom melakukan perjalanan ke luar angkasa untuk menemukan ayahnya yang menghilang dalam misi The Lima Project di sekitar Planet Neptunus. The Lima Project sendiri merupakan sebuah kapal eksplorasi yang dipimpin oleh ayah Roy, Clifford McBride (Tommy Lee Jones), yang diduga telah hancur puluhan tahun sebelumnya.

Sentakan gelombang energi telah menghancurkan bumi, menyebabkan masalah listrik yang sangat besar dan ancaman akan eksistensi manusia di muka bumi dipertaruhkan di sini. Diyakini oleh SpaceCom, muatan Lima adalah penyebab semua itu. Roy kemudian dikirim diam-diam dikirim ke Mars melalui Bulan di mana ia dapat mencoba untuk menghubungi ayahnya.

 

Namun ternyata ada konspirasi jahat dari SpaceCom untuk membunuh Clifford, dan untuk itu mereka membutuhkan Roy untuk mendapatkan respons dari sang ayah. Respons itulah yang digunakan SpaceCom untuk mengetahui lokasi Lima sebenarnya dan kemudian mengirim tim dengan bom nuklir. Roy menemukan niat jahat ini dan berusaha menyabotase misi tersebut untuk pergi seorang diri ke Neptunus, berharap untuk dapat menghancurkan Lima dan menyelamatkan ayahnya. Berhasilkah Roy melakukan hal tersebut dan kembali ke bumi dengan selamat?

Menarik melihat perjalanan Roy mencari keberadaan sang ayah yang menghilang dengan judul yang sepenuhnya tenggelam dalam balutan genre science fiction di ruang angkasa yang begitu luas tanpa batas ini.

 

Dari judulnya saja, “Ad Astra” merupakan Bahasa Latin untuk ‘to the stars’ atau bila diterjemahkan secara bebas adalah ‘menuju bintang-bintang’. Film yang disutradarai oleh James Gray (The Lost City of Z) ini memang sudah dicanangkan sejak lama. Kembali ke tahun 2016 saat ia ingin membuat sebuah perjalanan ruang angkasa paling realistis ke dalam sebuah film yang ingin ia garap, dan karena itu ia memperhatikan semua detail, termasuk judulnya.

Pengambilan judul ini bukannya tanpa pertimbangan, “Ad Astra” sendiri banyak digunakan dalam banyak frase Latin, dan salah satu yang dikenal adalah “per aspera ad astra”, yang berarti ‘menuju bintang melalui jerih payah.’ Frase ini teramat populer dan banyak digunakan dalam banyak referensi buku, musik, film, acara TV dan digunakan oleh beberapa negara.

 

Walaupun berbalut science fiction, film ini memang agak berbeda bila kita lihat alur cerita dan visualisasi yang digambarkan Ad Astra dengan beberapa film bertema serupa seperti ‘Gravity’ (2013), ‘Interstellar’ (2014), ‘The Martian’ (2015) ataupun ‘First Man’ (2018).

Dengan scope yang lebih ekstensif dan bergaya sci-fi modern, film ini dituturkan begitu intim dan personal. Script yang baik namun sedikit lemah diperlihatkan James Gray dan Ethan Gross, masih membahas tema yang cenderung umum yaitu soal keluarga (terutama hubungan ayah dan anak) dan kemanusiaan, namun alur cerita yang cenderung lambat berdurasi dua jam ini tak terasa membosankan.

 

Karakterisasi dari tokoh utamanya sangat solid, walaupun pendekatannya sangat dingin dan tidak seperti beberapa film yang tidak disebutkan di atas. Ada sedikit jarak yang diperlihatkan Roy, yang dalam film ini diperlihatkan sangat tenang secara emosional, tak meluap-luap walau sedang beraktivitas tinggi. Kita lihat bagaimana Pitt bisa berperan di berbagai macam karakter (lihat peran sebelumnya yang unik di ‘Once Upon A Time in Hollywood’). Di “Ad Astra”, karakter Roy tetap menarik, dengan naratif background, membuat karakter ini tetap membumi, dan tampil layaknya manusia pada umumnya yang mempunyai kekurangan.

Karakter Tommy Lee Jones yang menjadi ayah Roy pun digambarkan dengan screen time yang tak banyak, agak disayangkan memang, mengingat semestinya ada interaksi yang lebih intens antar keduanya dan kegilaan yang selama ini ia alami memang membuat film ini sedikit lebih hidup. Karakter Helen Santos yang dari awal menyimpan misteri, namun lagi-lagi screen time dan dialognya tak terlalu menarik, begitu pula dengan cast lainnya yang tampil minim.

 

Dilihat sekilas, film ini mempunyai sedikit kemiripan dengan film garapan Stanley Kubrick “2001: A Space Odyssey” (1968) yang memiliki similaritas tone warna dan cerita, walaupun tampaknya garapan Gray berkembang ke arah yang berbeda dari masterpiece Kubrick yang fenomenal itu.

Untuk aspek teknisnya, film ini bisa dibilang juara. Tampilan visual effect yang ditampilkan memang memukau kita, dan sinematografi yang menghibur mata kita, disuguhkan dengan apik oleh Hoyte van Hoytema (Interstellar, Dunkirk). Sejumlah adegan seperti car chase di bulan, juga tampilan Planet Neptunus yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Apa yang ditampilkan “Ad Astra” mungkin bukan sesuatu yang orisinil, namun sebuah perspektif imajinasi akan perjalanan tata surya yang emosional seperti ini sangat layak disaksikan di layar lebar.

 

Director: James Gray

Starring: Brad Pitt, Tommy Lee Jones, Liv Tyler, Donald Sutherland, Ruth Negga, John Ortiz, Loren Dean, Kimberly Elise

Duration: 122 Minutes

Score: 8.2/10

Share Yuk !

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay

BaliExoticMarinePark
TamanNusa

Update Your Life With Svarga News

Dapatkan info menarik, menghibur dan menambah wawasan di Svarga News
Bali Pink Ribbon
SeminyakDesignWeek2019
CatAndDogFashionShowCompetition
KutaBeachFestival2019