Resensi Novel ‘Paper Towns’, Terobsesinya Q Akan Margo

Penulis : John Green

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal Buku : 360 halaman

Tahun Terbit : Agustus 2015

ISBN : 978-602-03-1834-9

 

Novel “Paper Towns” merupakan karya John Green yang ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya setelah sukses berat menerbitkan novel legendaris, “The Fault In Our Stars” yang sempat diangkat ke layar lebar pada tahun 2014 oleh sutradara Josh Boone dan dibintangi oleh Ansel Egort dan Shailene Woodley. Setelah novel tersebut, John Green kembali lagi menulis novel bertemakan remaja dengan tokoh-tokoh unik serta jalan cerita yang membuat kita tak mampu berhenti membuka lembar demi lembar kertas.

Novel karya John Green ini langsung meledak popularitasnya di pasaran. Tentu saja ini memengaruhi rating novel itu sendiri. Banyak orang yang membeli novel ini karena penasaran atau karena hanya ingin memiliki novel yang sedang booming pada kala itu. Walaupun novel ini sempat diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama di tahun 2015, namun “Paper Towns” tak sesukses film sebelumnya yang meraih review positif baik dari sisi novel dan pengadaptasiannya ke layar lebar yang terbilang sangat mulus.

 

SINOPSIS

Cerita yang mempunyai setting di tahun 2008 ini kita mulai ulas dari bab satu, dimana kita akan dipertemukan dengan tokoh utama itu sendiri, yaitu Quentin Jacobsen atau kerap disapa Q yang meceritakan rutinitas dia setiap pagi serta betapa dia tidak menyukai prom, berbeda dengan kedua sahabatnya. Walaupun begitu, Q juga masih waras, karenanya ia menyukai gadis populer di sekolahnya yang kebetulan, tetangganya sejak ia kecil. John Green juga menuliskan bahwa masa SMA tak lepas dari namanya “labrakan”, terlebih lagi jika kau bukan anak populer.

Bab dua ini mulai memasuki awal dari konflik yang sebenarnya, dimana Q kedatangan tamu tak terduga, yaitu Margo Roth Spiegelman, pujaan hatinya yang mengetuk jendela rumahnya dimalam hari. Q yang awalnya bukanlah anak pemberontak, mengambil kunci mobil orang tuanya (yang sebenernya adalah miliknya pada saat libur) lalu pergi berkendara bersama Margo mengarungi malam dengan tujuan balas dendam ala Margo. Margo yang terkenal sensasional oleh ulahnya sedari kecil, memberikan teka-teki  secara tidak sadar pada pagi hari buta, saat Q mengucapkan selamat tinggal dan mengajak Margo untuk bergabung ke meja makannya saat makan siang nanti.

Bab demi bab selanjutnya ditulis sedemikian rupa tentang bagaimana bingungnya Q saat Margo meninggalkan keluarganya, sekolahnya, dan juga dirinya. Ia masih ingat bagaimana malam terakhir saat ia berdiri di depan Margo semuanya terasa mungkin. Namun, esoknya ia langsung lenyap bak ditelan angin. Quentin bukanlah remaja bodoh. Ia pintar dan langsung mengeluarkan semua tenaga dan pikirannya untuk menemukan dimana Margo berada. Ia yakin bahwa Margo meninggalkan petunjuknya di suatu tempat. Dan ia tidak main-main ketika meninggalkan petunjuk itu. Ia hanya mau petunjuk itu ditemukan oleh seseorang yang benar-benar tepat. Oleh mereka yang pantas menemukannya.

Q adalah remaja biasa sekaligus siswa SMA tahun terakhir. Ibu dan ayahnya adalah seorang psikolog. Lahir dengan latar belakang profesi kedua orang tuanya tersebut, membuat Q tumbuh menjadi seorang remaja yang tak pernah menyembunyikan apapun di hadapan kedua orang tuanya, termasuk mengumpat. Q terjebak dengan kedua sahabatnya karena rasa senasib sewaktu SD, yaitu anak bukan populer. Q juga telah lama memendam rasa kepada Margo, tetangga sekaligus teman masa kecilnya yang tak pernah akrab lagi. Walaupun Q membenci prom, tapi Q tak bisa membenci kedua sahabatnya yang kebetulan, terobsesi dengan prom.

Margo adalah siswi SMA tahun terakhir yang paling fenomenal. Baik itu karena kecantikan, kecerdasan, maupun misteri yang ia punya. Lahir dari orang tua narsistik, membuatnya terus  mencari perhatian. Satu hal yang pasti, ia adalah enigma berjalan. Semua orang pasti tak mampu melepaskan pandangan dari dirinya. Dan semua orang berlomba-lomba memecahkan misteri tentangnya.

Menarik melihat novel yang mempunyai alur cerita yang relatif lambat ini, kita baru akan melihat tensi konflik yang dimulai dari bab 2 dan mulai muncul kembali pada bab 14. Novel ini secara umum menceritakan tentang rasa cinta, tentang rasa ingin memiliki, dan tentang rasa merindukan. Namun di lain sisi, segi-segi persahabatan juga ditonjolkan begitu dalam, dimana kesetiakawanan diuji dan bagaimana cara mengatasinya. Tak hanya sampai disitu, nilai kekeluargaan juga disampaikan dengan halus yang dapat kita lihat dari keluarga Q.

 

 

KELEBIHAN

Novel ini memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tentang Q yang tetap mendengarkan orang tuanya pada saat ia hendak melakukan investigasi habis-habisan. Tentang bagaimana mendahulukan prioritas diatas hal lain. Tentang apabila usaha kita lakukan terus menerus tentu akan membuahkan hasil. Tentang dinamika persahabatan yang umumnya terjadi di kehidupan dan bagaimana merefleksikan diri bahwa kita tak sempurna, namun yang terpenting adalah menerima orang lain secara utuh maka perbedaan apapun itu pasti akan terselesaikan.

Bahasa yang dipakai dalam buku ini juga ringan, dan bukan bahasa berat. Setiap bab pasti akan diisi oleh sahabat-sahabat Q yang membuat kita tertawa oleh aksi jahil ataupun “aib” yang mereka punya. Novel ini mampu membuat kita merasa seperti mengikuti jejak Q kemanapun ia pergi. Kita seperti sedang menjalani sebuah road trip untuk mengarungi misteri yang masih belum terkuak.

 

KELEMAHAN

Hampir tidak ada kelemahan di buku ini. Kecuali untuk beberapa aksi kejahilan dan adegan yang sedikit vulgar membuat pembaca sedikit kurang nyaman. Kemudian ada pesan-pesan dendam dalam buku ini yang kurang mengenakkan, namun penulis menutupinya dengan adegan penuh jokes setelahnya.

 

Novel berjudul Papertowns karya John Green layak dibaca oleh remaja, sesuai temanya. Novel ini cocoknya dibaca pada saat waktu senggang saat pikiran sedang tidak penat, karena setiap bab berisi perjalanan Q yang akan terus bersambung kedepannya. Hilangnya fokus membuat kita melupakan jalan cerita yang terakhir kali kita tinggal. Pembaca juga harus jeli mana yang boleh ditiru, mana pula yang sebaiknya tidak.

 

Penulis: Bibiana Renata

Share Yuk !

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay

PanenRayaNusantara

Update Your Life With Svarga News

Dapatkan info menarik, menghibur dan menambah wawasan di Svarga News
BrandingStarterPack
JasaDesignLogo
DenpasarFestivalColorRun5k2019
DenpasarFestival2019