Review Novel ‘Sitayana’, Kisah Tak Biasa Rahwana, Sita, dan Rama

Ketika membaca sebuah wiracerita seperti Mahabaratha atau Ramayana, barangkali kita mendapati banyak masukan tentang baik dan buruk. Tak jarang mendengar dari hasil telaah yang serupa dari waktu ke waktu yaitu kemenangan kebaikan atas keburukan. Ada sisi hitam dan putih- seperti Pandawa adalah simbol kebaikan dan Kaurawa adalah jahat. Seperti halnya epos Ramayana bahwa Rawana adalah simbol keangkaramurkaan dan Rama adalah Dharma atau kebaikan, dan Sita – yang di mata orang tenggelam dalam kharisma Rama – adalah simbol kesetiaan.

 

Rahwana

Sitayana, karangan terbaru dari Cok Sawitri adalah salah satu dari sekian tafsir. Ada dua pecahan besar di novel ini. Bagian pertama adalah Prolog, dimulai dengan riwayat kelahiran Rahwana hingga sebab kematiannya. Bagian kedua – dikhususkan untuk Sita, sesuai dengan judulnya, Sitayana. Dari sini akan timbul pertanyaan mengapa dimulai dari Rahwana, bukan Rama?

Bukan tidak mungkin penulis ingin menyampaikan perspektifnya bahwa Rawana memiliki hati nurani. Seorang Rahwana tidak seburuk yang orang bayangkan. Raja Alengka bijak dan jenaka yang rakyatnya makmur, gemah ripah loh jinawi. Raja Alengka yang hanya jatuh cinta sekali dalam ribuan tahun. Sitayana hendak membelokkan apa yang selama ini dibaca dari generasi ke generasi tentang Rahwana yang jahat.

Sitayana ingin menengahi (bahkan menegaskan) Rahwana adalah sama seperti manusia pada umumnya yang mempunyai hasrat yang disimbolkan dalam sepuluh kepala, ia pun manusia yang mempunyai rasa cinta kasih. Sita dibuatkan taman yang indah, ada bulan purnama di setiap malamnya, siang hari ada burung merak berseliweran dan pelayan yang diambilnya dari Sorga untuk menemani Sita.

Setiap hari, Rahwana mengunjungi Sita, menghiburnya dengan kejenakaan juga dengan puisi yang indah-indah. Sita adalah istri orang, cinta yang tak berbalas walaupun telah melewati kelahiran yang berulang. Cinta yang menyesakkan dada karena ketidakberdayaannya untuk membuat Sita paham bahwa ia jauh lebih baik daripada Rama. Ia tak mungkin membunuh Rama karena Sita pasti akan bersedih (lalu menceburkan dirinya ke api lagi). Apa guna kemenangan jika melihat perempuan yang dicintainya menjadi abu?

“Namun hatiku…. Hatiku…selalu meletupkan geram akan bayangannya. Menggangguku kadangkala dan hingga kini. Aku tak percaya benarkah Wisnu peduli pada nasib pemujanya seperti Wedawati, perempuan yang malang itu dan kini Sita, seperti pinang dibelah dua dengannya. Haruskah aku lepaskan? Sebab tanpa harus menyentuhnya, tanpa harus mendekapnya, cukup ia ada di sekitarku, aku merasa penuh, walau kadang pedih sebab ia tak juga memahami kerinduanku.”

 

Sita

Kemenangan Rama atas Rahwana adalah kekalahan bagi Sita. Kesucian Sita telah diragukan Rama dan Sita pun menceburkan diri ke api untuk membuktikan kesuciannya. Tidak sampai di sana, Sita lalu diasingkan selama empat belas tahun, hingga Sita melahirkan anak kembar dan karena pengakuan yang tak kunjung tiba- kedua anak itu diperkenalkan sebagai anak Sita.

Ketidakadilan pada posisi perempuan banyak ditemukan dalam kisah-kisah besar. Drupadi yang dilecehkan Kurawa di depan Pandawa, Srikandi yang diremehkan, Sita yang diasingkan karena kesuciannya. Kiranya, Sitayana adalah pecahan kecil namun tajam untuk meluruskan bahwa sikap-sikap Rama adalah tidak benar.

Sita, sang perempuan suci, terangkum dalam pertanyaan-pertanyaan yang begitu pribadi dan – jika anda perempuan – seketika anda akan merasa persoalan-persoalan yang dihadapinya memang terjadi dalam konteks kekinian pun. Mengapa seorang suami tidak bisa membela istrinya sendiri di depan khalayak?

Pembelaan terhadap Sita (dan kecaman terhadap Rama) dalam karya sastra Indonesia sudah dikemukakan oleh beberapa karya, semisal dalam Anak Bajang Menggiring Angin (Sindhunata), puisi karya Sapardi Djoko Damono dan Dorothea Rosa Herliany, kini Sitayana menyusul dalam monolog yang mempertanyakan perihal keberadaannya sebagai perempuan.

Dalam perkawinan bisa jadi dianalogikan hubungan suami istri adalah kesatuan sebuah semesta kecil, dan lingkungan sosial adalah semesta besar. Sita, sebagai istri, tidak mendapat tempat di kedua semesta itu, hingga ia harus menentukan nasibnya sendiri, sebagai perempuan yang berani yakni hidup di luar istana, dan mengklaim anak-anaknya sebagai Anak Sita – anak dari Ibu, bukan anak Rama, sebagaimana seorang anak memperkenalkan dirinya. Tidak sampai di sana, pembaca seolah diajak untuk menyelami perasaan Sita, tentang kerinduan rahasianya pada Rahwana – lelaki yang menawannya di Alengka.

 

Tamasya yang Tak Biasa

Cok Sawitri memberikan tajuk, tamasya tak biasa yakni perjalanan Rahwana dan Sita ke inti bumi, untuk menapak tilas kelahirannya. Rahwana – yang berupa ruh itu, menjawab rahasia-rahasia alam semesta, takdir, dan karma.

Cok Sawitri adalah seorang pencerita yang handal. Pengetahuannya tentang teks – teks tua ia tuangkan pula ke dalam novel ini. Sita, adalah bagian dari Ramayana. Namun, Sitayana – adalah unit yang ingin mendapatkan tempatnya sendiri, dengan kebersahajaan dari kemegahan Ramayana. Sitayana yang sempat ditulis secara berseri di Facebook pribadinya, kini terangkum menjadi kisah cinta yang berbeda.

Bisa saja efek samping dari membaca Sitayana adalah Rahwana adalah idola baru, bahkan pahlawan. Di Sri Lanka, Rahwana sangat dipuja, hanya dalam kitab sucilah Rahwana dikecam sebagai penjahat. Maka, tidak keliru jika membaca Sitayana akan mendapatkan perspektif baru, atau bahkan saja bisa menangis tersedu-sedu atas keperihan kisah cinta Rahwana dan Sita.

 

Share Yuk !

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay

PanenRayaNusantara

Update Your Life With Svarga News

Dapatkan info menarik, menghibur dan menambah wawasan di Svarga News
BrandingStarterPack
JasaDesignLogo
DenpasarFestivalColorRun5k2019
DenpasarFestival2019