fbpx

‘Secret Zoo’, Kocaknya Kebun Binatang Tanpa Binatang di Dalamnya

Isu lingkungan adalah isu yang semakin kuat dalam beberapa dekade ke belakang. Bagaimana tidak, Bumi kita terancam pemanasan global. Selain itu, banyak pula ulah manusia yang menimbulkan kehancuran bagi alam dan kepunahan bagi makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Maka dari itu, di sini lah peran dari medium film dibutuhkan.

Sebagai karya yang dinikmati secara bersama-sama, film menjadi alat yang powerful untuk menyampaikan pesan semacam ini. Hanya saja, dibutuhkan sebuah usaha yang bagus agar pesan tersebut bisa disampaikan secara menyenangkan dan cocok bagi semua kalangan. Banyak film dokumenter yang sudah membahas hal ini, namun salah satu kelemahannya adalah film dokumenter meski sangat edukatif dan inspiratif namun kurang menghibur. Ini bisa dimanfaatkan oleh jenis feature film di mana sineas bisa membuat sebuah dunia cerita dengan beragam rasa di dalamnya, namun pesannya tetap sama dan jelas adanya.

“Secret Zoo” adalah film yang coba mewujudkan itu. Film ini bercerita tentang seorang pengacara muda yaitu Tae-Soo (Ahn Jae-Hong) yang ditugaskan oleh bos besarnya untuk mengelola sebuah aset. By the way, aset ini adalah aset yang dimiliki oleh perusahaan bernama Gabriel yang merupakan mitra dari perusahaan tempat Tae-Soo bekerja.

Yang bikin Tae-Soo kaget, bentuk aset ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Ia adalah Dongsan Park, sebuah kebun binatang. Tae-Soo ditugaskan sebagai direktur dan setelah tiga bulan memegang kebun binatang itu jabatannya akan dinaikkan. Ketika sampai di Dongsan Park, alangkah terkejutnya Tae-Soo karena kebun binatang ini sepi sekali. Binatangnya banyak yang sudah dijual. Jelas sudah bahwa Dongsan Park menghadapi kebangkrutan dan Tae-Soo sebagai orang yang ditunjuk untuk mengelola tempat ini tak ingin kejadian tersebut terjadi.

Membahas aspek naratifnya, seperti biasa, film Korea memang selalu memasukkan sesuatu yang terkesan “wah”, mau apapun genre filmnya.

Kemarin di “Ashfall”, mereka memasukkan unsur politik dan unifikasi Korea. Kini di film seperti “Secret Zoo” mereka memasukkan juga cerita mengenai lika-liku dunia pengacara dan menggabungkannya dengan value utama, yaitu lingkungan. Jadi akan ada hal njelimet yang terdapat dalam sebuah film yang ringan, dan tanpa pikir panjang, itu lansung disajikan di awal. Penonton bisa mencium awal kerunyaman konflik karena karakter Tae-Soo berasal dari latar belakang hukum.

Sebaiknya kamu bersiap dari awal film karena unsur hukum, kemudian kepemilikan aset dan sebagainya ini bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dicerna. Menempatkannya langsung di awal cerita membuat suasana langsung menjadi runyam, dan nuansanya langsung terasa serius. Keputusan kreatif ini akan berdampak pada bagaimana film menampilkan turning point pertama sebelum memasuki tahap konfrontasi karena feel dari sebuah film yang berjudul “Secret Zoo” seharusnya tidak seperti ini.

Sebelum itu, ada baiknya kita mengetahui kembali apa itu turning point dan perannya dalam membangun film. Jadi, turning point adalah kondisi di mana cerita film sudah bergerak ke arah yang sama sekali baru. Biasanya, turning point pertama ditimbulkan oleh sesuatu yang namanya inciting incident. Dalam “Secret Zoo”, karena eksposisi dari kebun binatang secara garis besar sudah cukup jelas, maka tinggal bagaimana film menampilkan inciting incident dan turning point pertamanya.

Bersyukur, film mulai menyadari jati diri. Mereka membuat sebuah inciting incident dengan unsur komedi yang kental, walaupun arahnya mudah ditebak. Dari sana muncul lah ide gila yang mengawali turning point pertama. Sebuah ide gila yang benar-benar meng-embrace salah satu poin luxury dalam film.

Hal ini membuat apa yang kita rasakan di tahap konfrontasi sangat menyenangkan. Film seperti betul-betul lepas dengan mengeksplorasi lebih banyak hal terkait ide gila dari Tae-Soo tersebut. Mulai dari dialog-dialog yang sifatnya komedi, sampai yang lebih dramatik. Semua dibuat dengan satu tujuan yaitu agar kebun binatang Dongsan Park bisa hidup kembali.

Di sini salah satu poin dari aspek sinematik sangat membantu. Yang pertama adalah akting. “Secret Zoo” adalah sebuah film dengan ensemble cast. Maka seluruh pemeran diwajibkan untuk bisa bekerja sama demi menyampaikan tuntutan naratif. Lucu atau enggaknya film ini murni begantung sama mereka, apalagi mereka akan terlibat secara langsung dengan ide gilanya Tae-Soo yang mana di sisi lain juga akan menjadi sesuatu yang cukup menantang bagi sang aktor sendiri.

Hasilnya, seringkali film ini pecah gara-gara penampilan aktor yang sangat menyerupai “perannya”. Permainan sudut pandang dalam beberapa scene sukses membuat penonton benar-benar terhibur.

Kedua adalah kostum. Bagaimanapun juga aspek ini sangat berperan, apalagi jika didukung oleh penceritaan yang tepat. Sebagai awalan, cerita yang ada menampilkan sudut pandang hanya dari mereka yang bekerja di kebun binatang saja. Apa yang terjadi, hingga yang direncanakan di sana. Masih menggunakan batasan informasi penceritaan tertutup. Ini asik banget ketika tahap konfrontasi karena pengunjung kan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Nah, berkat dukungan kostum, semuanya jadi lebih nikmat karena jika dilihat-lihat, kostum yang digunakan adalah kostum yang meyakinkan. Bukan macam kostum buat maskot dan sebagainya. Akting dari para aktor jadi terlihat lebih mantap lagi karena tuntutan naratifnya bisa tersampaikan dengan baik. Bagusnya lagi, di tahap ini film juga bisa menampilkan social criticism yang dibutuhkan. Penonton bisa melihat bagaimana gak enaknya binatang ketika dijadikan bahan tontonan, bahkan demi sesuatu yang viral. Disampaikannya sih secara lucu ya. Tapi sesungguhnya ada makna yang menyedihkan di dalamnya.

Sayang, masih di tahap konfrontasi dan juga masih ngomongin tentang aspek sinematik, “Scret Zoo” memiliki kelemahan yang jelas terasa. Kelemahan tersebut adalah ketika film menampilkan binatang asli. Ada kalanya di mana binatang ini sangat kelihatan fake-nya. Kasar dan tentu tidak berhasil dalam meyakinkan penonton.

Dampaknya adalah, salah satu side story dari film ini menjadi kurang greget. Kelemahan tersebut sampai di level di mana penonton jadi was-was. Apakah karakter ini akan ditampilkan secara lebih ekstensif ketika plot memasuki tahap resolusi? Karena jika iya, maka kita khawatir fake-nya akan lebih terlihat.

Namun berbicara mengenai side story-nya, ada juga kok poin positif yang menjadi catatan. Terdapat kisah cinta yang terjalin antar sesama karyawan Dongsan Park dijalin dengan baik dan tentu saja ada kalanya memanfaatkan luxury kostum-kostum binatang.

Memasuki tahap resolusi, film mulai lebih playful dengan batasan informasi cerita. Jika di tahap sebelumnya yang lebih menonjol adalah batasan informasi tertutup, maka di sini akan ada saatnya batasan informasi terbuka mulai memberikan bumbu-bumbu baru. Film memanfaatkan kembali unsur-unsur beratnya di sini. Pas banget sih untuk melancarkan turning point kedua. Kita akan dapat merasakan betapa hebat tekanan mental yang dirasakan oleh Tae-Soo di kala ini.

Apalagi pace-nya yang tergolong cepat membuat ada scene di mana kita bisa merasakan kegetiran sebelum semuanya meledak. Kredit patut diberikan pada plot yang lebih terbuka. Karakter-karakter pendukung jadi lebih nampak di sini. Ada yang sifatnya jahat, dan ada yang sifatnya baik. Salah satu yang menonjol adalah karakter dokter yang diperankan oleh Kang So-Ra. Tak disangka, justru dia yang bikin pemantik dalam tahap akhir ini, sehingga membuat karakter antagonis menjadi kalang kabut.

Hanya saja, ada juga catatan yang muncul. Dalam tahp resolusi ini, terdapat karakter yang begitu menyebalkan. Sejak awal film, dia sudah dirancang begitu. Tapi pada akhirnya karakter ini seperti dibuang begitu saja. Tidak ada penjelasan. Hanya dijadikan pion sehingga cukup sia-sia untuk membuat forgettable. Kemudian sebetulnya apa yang disajikan di akhir adalah sesuatu yang tidak mengagetkan. Ini adalah sesuatu yang terpikirkan oleh kita, apalagi film memberikan value mengenai alam secara jelas.

Tapi, bukan berarti hal yang bisa diprediksi itu membuat semua jadi kurang menarik. Secara cerdas film memanfaatkan dinamika dari lobi-lobi ala pengacara. Cuman selain terlau cepat dipaparkan, prosesnya juga gak nge-gong. Terdapat saat di mana film memanfaatkan salah satu teknik bentuk penyuntingan gambar yaitu fade, yang memang digunakan untuk perpindahan shot yang terputus waktu secara signifikan. Untungnya, melihat dari packaging-nya, keputusan tersebut masih terhitung pas-pas saja. Untuk ketawa-ketiwinya, wajar jika di tahap ini tidak seheboh tahap sebelumnya.

“Secret Zoo” adalah kejutan pertama yang datang di tahun 2020. Tidak menyangka bahwa film ini bisa sebegitu menghiburnya. Kemudian selain menghibur, penonton dewasa juga bisa mendapatkan pesan yang diharapkan ada dan juga intrik-intrik yang cukup oke karena penggabungannya dengan dunia pengacara pun cukup smooth.

Meski terdapat hit and miss di beberapa bagian cerita dan jujur saja awal dari filmnya bikin kaget, “Secret Zoo” tidak pernah gagal dalam membuat penonton tertawa di bagian tengah. Bahkan hingga terbahak-bahak. Bagian visual dari salah satu karakter binatangnya saja yang paling sulit untuk bisa ditolerir.

Director: Son Jae-Gon

Starring: Ahn Jae-Hong, Kang So-Ra, Park Young-Gyu, Kim Sung-Oh, Jeon Yeo-Bin, Park Hyuk-Kwon, SeoHyun-Woo, Jang Seung-Jo

Duration: 118 Minutes

Score: 7.8/10

Share Yuk !

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay

PanenRayaNusantara

Update Your Life With Svarga News

Dapatkan info menarik, menghibur dan menambah wawasan di Svarga News
BrandingStarterPack
JasaDesignLogo
DenpasarFestivalColorRun5k2019
DenpasarFestival2019