Seno Gumira Ajidarma Luncurkan Buku Ketiga Seri ‘Nagabumi’ di UWRF 2019

Dalam salah satu acara menarik di hari pertama ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), salah satu penulis ternama Indonesia, Seno Gumira Ajidarma, kembali menerbitkan buku ketiga dari seri ‘Nagabumi’. Setelah 8 tahun silam seri ke-2 nya terakhir diterbitkan, baru kali ini, seri ke-3 nya muncul dan langsung dirilis di ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2019.

Buku ketiga setebal 1.136 halaman ini kini diberi judul ‘Nagabumi III: Hidup dan Mati di Chang’an’. Awal mula novel ini diterbitkan, berawal dari cerita bersambung atau cerbung di dua media massa, harian umum Suara Merdeka Semarang dari 7 Agustus 2009 sampai 2 Desember 2009 yang berjudul ‘Nagabumi’.

Kemudian disambung terbit di harian umum Jawa Pos Surabaya dari 1 Juli 2014 hingga 3 Juli 2015 dengan judul ‘Naga Jawa: Petualangan di Negeri Atap Langit’. Di buku ketiga, penulis ‘Sukab’ kembali melanjutkan kisah Pendekar Tanpa Nama.

Pendekar Tanpa Nama itu bertualang ke Chang’an ibukota Negara Atap Langit dan memburu Harimau Tanpa Nama si pembunuh kekasihnya. Dalam perjalanan tersebut Pendekar Tanpa Nama terlibat dalam banyak peristiwa besar, intrik politik kerajaan hingga perebutan perempuan.

Dalam acara peluncuran buku yang berlangsung di Joglo @ Taman Baca, Ubud, (24/10), Seno Gumira sempat menjelaskan latar belakang dan inspirasinya selama ini dalam menulis buku terbarunya lewat sejumlah slide yang ia tunjukkan. Bagaimana ia mengembangkan peta masa lalu digabungkan dengan karya silat masa lalu seperti Kho Ping Hoo, lewat fiksi dan fakta yang ada, juga lewat sejumlah foto lansekap yang ia ambil sendiri.

Dari situ ia berhasil membuat karakter autobiografi dari Pendekar Tanpa Nama atau Nameless Warrior (nama ini juga pernah digunakan Zhang Yimou dalam film ‘Hero’ pada tahun 2002). Dalam buku ke-2, Pendekar Tanpa Nama ini dikisahkan mengembara dari Javadvipa dan tiba di Tanah Kambuja pada tahun 796. Perjumpaannya dengan seorang perempuan pendekar, membuatnya sering terlibat berbagai pertarungan maut yang nyaris mencabut nyawanya.

Bersama perempuan pendekar itu, ia bergabung dengan pasukan pemberontak An Nam yang melawan penjajahan, yang kemudian membuatnya wajib melakukan perjalanan rahasia ke Negeri Atap Langit untuk membongkar persekongkolan.

Mengapa Pendekar Tanpa Nama bisa terdampar di kampung pelarian Pemberontakan An-Shi? Juga mengatasi kungfu Perguruan Shaolin dan kenapa perjalanannya berbelok hingga ke Shangri-La dan terpaksa menghadapi para penyamun terbang?

Menarik rasanya melihat kelanjutan novel ini. Mirna Yulistianti, editor senior bidang sastra Gramedia Pustaka Utama menjelaskan, “Novel ini mengembalikan tradisi cerita silat yang lama tidak muncul dalam dunia sastra kita. Menggabungkan ilmu silat, kanuragan, sekaligus kisah para tokoh yang mengagumkan.”

Bagi para pembaca setia ‘Nagabumi’, memang kehadiran buku ke-3 ini sudah lama dinanti sejak lama.

“Walaupun Februari lalu kami juga baru menerbitkan kumpulan cerita pendek terbaru ‘Transit: Urban Stories’, tapi tampaknya kerinduannya memang spesifik kepada cerita silat. Semoga terbitnya Nagabumi III dapat menjadi patron bagi perkembangan genre cerita silat di Indonesia,” ujar Mirna.

Buat kalian yang belum tahu, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan ‘Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk’ pada tahun 2009 dengan tebal 815 halaman. Dilanjutkan dengan ‘Nagabumi II: Buddha, Pedang, & Penyamun Terbang’ di tahun 2011 dengan tebal 990 halaman. Dan rencananya seri ‘Nagabumi’ ini bakal berlanjut di seri keempat, yang belum diketahui tanggal rilisnya.

Share Yuk !

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay

PanenRayaNusantara

Update Your Life With Svarga News

Dapatkan info menarik, menghibur dan menambah wawasan di Svarga News
BrandingStarterPack
JasaDesignLogo
DenpasarFestivalColorRun5k2019
DenpasarFestival2019