fbpx

Empat Dekade LPTB Susan Budihardjo, Angkat ‘Time’ di Pagelaran Busana Alumninya

Nama Susan Budihardjo tak bisa dilepaskan dari Lembaga Pengajaran Tata Busana yang selama ini lekat dalam perjalanan fashion Indonesia dari masa ke masa. Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo sendiri merupakan sekolah mode tertua di Indonesia. Sekolah yang berdiri sejak 1980 ini telah melahirkan banyak nama besar fashion designer Indonesia. Beberapa desainer bertalenta yang lahir dari LPTB Susan Budihardjo, di antaranya yaitu Sebastian Gunawan, Eddy Betty, Adrian Gan, Irsan, Didi Budiarjo, Denny Wirawan, dan Sofie.

Memasuki usia 40 tahun, kini sekolah mode ini mengadakan prosesi wisuda dan peragaan hasil karya dari LPTB Susan Budihardjo Bali, Surabaya dan Semarang yang bertempat di Hotel Trans Resort, Bali (15/2).

Susan Budihardjo

“Sekolah kami senantiasa memberi dorongan dan dukungan yang maksimal kepada para siswanya, bahkan setelah mereka telah menjadi alumni sekalipun. Tiap tahun, kami mengundang alumni untuk mempresentasikan karya di muka publik. Sekolah memfasilitasi penyediaan tempat, panggung, tata lampu, musik, hingga model.

Kami juga kerap mengikutsertakan murid dan alumni pada gelaran mode seperti Jakarta Fashion Week, atau Indonesia Fashion Week, dl. Hal ini kami lakukan demi menjadikan lulusan LPTB Susan Budihardjo paham tantangan yang akan dihadapi ketika terjun ke tengah masyarakat nantinya”, ujar Susan Budihardjo founder sekaligus pemimpin LPTB Susan Budihardjo, Sabtu (15/02) malam.

Susan menjelaskan, para desainer muda itu lulus dari empat penjuru kota; Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bali setelah mampu melampaui berbagai ujian dan presentasi untuk membuktikan kemampuan dan daya kreativitas mereka. Dengan tema ‘TIME’ (waktu), tema utama ini dipilih untuk materi ujian sekolah dan presentasi alumni di hadapan masyarakat.

“Waktu adalah keniscayaan yang menawarkan dua hal dalam satu tempo, lama dan baru, berubah dan tetap. Karenanya, waktu dapat dilihat dari berbagai sudut dan perspektif yang berbeda. Filosofi ini disodorkan sekolah kepada para siswa dan desainer muda untuk membuka imajinasi dan mengembangkan kreativitas sejauh mungkin dan menerjemahkannya menjadi sebuah koleksi karya dengan bebas dan kreatif.” jelasnya.

Dengan demikian jenis busana yang dipersembahkan para siswa dan desainer muda ini semakin beragam, mulai dari rancangan kostum, couture, hingga busana siap pakai. Susan Budihardjo menitipkan pesan kepada generasi mode muda Indonesia, “Jangan lekas menyerah, jangan mudah putus asa. Jalani proses dengan hati ringan, perbanyak jam terbang untuk mengenali karakter karya pribadi. Bekerjalah lebih keras lagi, karena persaingan semakin kompetitif.”

Dalam pagelaran mode kali ini, para desainer terbaik lulusan LPTB Susan Budihardjo dari Bali seperti Indy Rizkiana, Marchelle Tan dan Tori Golf by Julia Tori ikut mengeluarkan sejumlah koleksi terbarunya.

Indy Rizkiana menggunakan material tulle dan linen dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, hijau dan biru. Untuk menguatkan konsepnya, ia juga menggambarkan seraut wajah di atas material linen.

Marchelle Tan terinspirasi dari waktu bersantai dan menikmati secangkir kopi. Dari situ ia menciptakan busana kasual hitam dan putih yang monokromatis. Dengan material sifon, dan siluet A-Line dan baju panjang melekat di badan, memang cocok mewakili suasana santai yang ia impikan.

Julia Tori menghadirkan koleksi terbarunya dengan label Tori Golf. Desainer yang telah mapan ini mengklaim menjadi yang pertama memanfaatkan batik sebagai material bahan baju golf, baik batik tulis maupun motif yang dicetak di atas bahan polyester dan elastane. Selain baju bergaya two-piece untuk pria dan wanita, label ini juga melengkapinya dengan aksesoris senada, seperti topi, sarung tangan, hingga tas sepatu.

Dari alumnus LPTB Semarang, Vidi Jjong, Dinisyu dan Qolbiana Zahra Adeputri menggelar koleksinya dengan gaya berbeda.

Vidi Jjong terinspirasi pada waktu malam hari yang diterangi cahaya bulan dalam terusan jumpsuit dan busana Panjang two-piece dengan tambahan elemen metal dengan rantai. Koleksi ini hadir dengan warna hitam, abu-abu dan perak. Aksesori kepala tak lupa ditambahkan dengan material kulit dan bulu imitasi serta sejenis besi ringan.

Disnisyu melihat waktu sebaga pertanggungjawaban atas prilaku baik dan buruk yang diterjemahkan dalam gaun-gaun asimetris hitam putih berbahan satin yang dianyam.

Materialnya menggunakan satin bridal dengan organdie Jepang dengan tulle sebagai pelengkapnya.

Qolbiana Zahra Adeputri memilih Golden Hour, mulai matahari terbit hingga terbenam, yang diterjemahkan lewat modest wear yang ringan, kasual dan bercitarasa feminin. Tak ketinggalan aksesoris seperti scarf yang melengkapi padanan kemeja-blus dengan luaran dan overall atau pasangan celana super lebar maupun rok dalam warna kuning muda keemasan dipadu kuning tua dan off-white berbahan linen dan katun.

Dari Surabaya, Vella Virlia menyuguhkan tiga busana yang bercerita tentang pendulum, bandul penghitung waktu abad 17. Gerak ayun pendulum tersebut menjadi inspirasinya berkarya dengan gaya vintage yang kental. Palet warna hijau keemasan yang dipadu warna hitam menjadi kiblat warnanya yang dipadukan dengan aksesoris rantai yang merepresentasikan rantai bandul.

Pagelaran kemudian ditutup dengan penampilan 16 koleksi dari para guru LPTB Susan Budihardjo Bali yang terdiri dari Jafar Sodiq, Luh Wina Sadevi, Ni Made Rica, Donny Silvester, dan Andre Puspa.

Share Yuk !

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay

PanenRayaNusantara

Update Your Life With Svarga News

Dapatkan info menarik, menghibur dan menambah wawasan di Svarga News
Muslim Fashion Festival 20 23
VictoryDesign
DenpasarFestivalColorRun5k2019
DenpasarFestival2019